Breaking News

Taste Of Java

Landmark Kudus

Listrik Kudus

Bupati Kudus

Showing posts with label Taste of Java. Show all posts
Showing posts with label Taste of Java. Show all posts

Monday, 21 April 2014

Monumen Super Smash

Monumen Super Smash

Melalui program Djarum Apresiasi Budaya, di bawah payung Djarum Foundation meresmikan Sculpture SUPER SMASH  atau lebih mudah dibilang Patung Super Smash di depan GOR Bulutangkis Djarum di desa Jati-Kudus , Jawa Tengah Pada 3 Maret 2011, sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap prestasi yang diraih di bidang bulutangkis.

Monumen inspiratif ini dikelilingi oleh 7 taman yakni Taman Plaza Thomas Cup, Plaza Thomas Uber, Plaza All England, Plaza Kejuaraan Dunia, Plaza BWF, Plaza Sudirman dan Plaza Rangking Dunia.
“Sculpture SUPER SMASH adalah cerminan kebanggaan, semangat, dan cita-cita. Kebanggaan terhadap prestasi, semangat untuk terus berproses dan cita-cita besar demi kemajuan negara Indonesia tercinta.


Renitasari, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation mengungkapkan bahwa meski secara visual sculpture ini bertema “SUPER SMASH”, namun secara tersirat visi yang ingin disampaikan jauh lebih besar dan lebih luas lagi. Karena dari pusat pelatihan dan usaha pembimbingan seperti yang telah dilakukan oleh Djarum tentunya akan mampu memberikan peran bagi generasi penerus bangsa. Merekalah yang akan memberikan warna bagi pergerakan budaya Indonesia di masa yang akan datang.
Turut hadir dalam acara peresmian, antara lain para atlet legenda PB Djarum seperti Haryanto Arbi, Sigit Budiarto, Maria Kristin, Hayom Rumbaka, Ketua PB Djarum Yoppy Rosimin, atlet PB Djarum Jakarta dan Kudus, serta budayawan dari Kudus, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jakarta.  Setelah acara peresmian, dilanjutkan dengan diskusi bersama pencipta, Rudi Mantofani; kolektor dan kurator seni rupa asal Magelang, Oei Hong Djien; serta kurator Galeri Salihara, Asikin Hasan.



Monumen besutan perupa senior Indonesia, Rudi Mantofani, terdiri dari patung seorang atlet yang sedang melakukan smash. Patung figure di posisikan berdiri di atas konstruksi berupa globe (bola dunia). Tingginya mencapai 8 meter dari permukaan tanah, ditempatkan tepat di atas kolam sedalam 0,60 meter dengan dasar batu andesit.

Patung figur dari bahan perunggu tersebut dibuat secara mendetail. Proses pengelasan dilakukan secara cermat, sistematis, dengan urut-urutan bagian tubuh yang telah ditentukan agar anatominya tetap terjaga. Proses perakitannya pun dilakukan dengan sistem welding.

Menurut Rudi Mantofani, pengerjaan terlama adalah lempengan logam pada globe yang membutuhkan waktu karena diperlukan ketelitian dari setiap bentuknya.   Peta pada globe memang dibuat aerodinamis untuk mencegah terpaan angin kencang pada setiap titik ketinggian patung dengan dibentuk perforated dari setiap lempengan petanya (kepulauan globe).

Dua buah globe setinggi 6 meter dari dasar kolam tersebut terbuat dari pelat grade kuningan dan rangkaian pipa. Sementara finishing model ini dilakukan dengan pekerjaan yang penuh kesabaran mulai dari kontrol dan ketepatan dalam pembentukannya. Hasilnya adalah sebuah monumen sederhana, artistik, memikat dan meninggalkan kesan yang dalam.

Monumen Super Smash
Read more ...

Tuesday, 15 April 2014

Kuliner Kudus

Kuliner Kudus . Kudus is Taste of Java

Soto Kudus

Soto Kudus agak berbeda dari soto daerah lain. Soto Kudus mempunyai banyak taburan bawang dan mempunyai rasa yang kuat. Biasanya soto Kudus disajikan dalam mangkok-mangkok kecil. Dalam seporsi soto ayam berisi nasi putih yang ditambahkan taoge, irisan kol dan seledri, suwiran daging ayam, bawang merah dan bawang putih goreng. Kemudian disiram kuah yang kuning agak keruh, karena kuahnya manggunakan santan. Kalau tidak suka langsung dicampur, kita bisa minta agar nasinya dipisahkan. Untuk ayamnya, kedai ini hanya menggunakan ayam kampung. Di atas meja juga disediakan aneka pelengkap, ada sate telur puyuh, perkedel, sate kerang, sate hati ampela, paru dan masih banyak yang lainnya. Yang cukup terkenal adalah Soto Ayam PakDenuh yang terdapat di Jl. Agil Kusumadya, Soto Jatmi di Jalan Wachid Hasyim, Soto Ramidjan, Taman Bojana ( Jl. Simpang Tujuh ), Jl. Dr Lukmonohadi, depan Pasar Jember dan tempat lain di sekitar Kota Kudus.

Soto kerbau bisa didapat di Jl. Agil Kusumadya, Jl. Nitisemito, Jl. HM Subchan, Taman Bojana, depan Pasar Jember dan tempat lain di sekitar Kota Kudus.

Nasi Pindang Kudus

Nasi pindang ini seperti Rawon, menggunakan daging kerbau atau ayam, rasanya manis dan gurih. Bisa didapat di Taman Bojana dan lokasi lain di sekitar kota Kudus.

Lentog Tanjung

Lentog berasal dari kata pulen dan montog, yang merupakan definisi dari bentuk serta rasa lontongnya. Sedangkan untuk Tanjung, merupakan nama daerah dimana lentog ini mulai dikenal masyarakat. Maka terciptalah nama Lentog Tanjung yang kini sudah dikenal hingga ke beberapa kota lain. Lentog Tanjung juga menjadi salah satu makanan khas kota Kudus yang banyak digemari hampir seluruh lapisan masyarakat Kudus. Biasanya lentog tanjung dinikmati sebagai menu untuk sarapan, terdiri dari 3 bahan utama, ada lontong yang dipotong kecil-kecil, sayur gori (nangka muda) dan lodeh tahu. Di sajikan di atas piring kecil yang dialasi daun pisang serta taburan bawang goreng, membuatnya semakin gurih saat disantap. Selain tampilannya yang sederhana, untuk memakannya juga tidak menggunakan sendok, namun menggunakan suru (sendok dari daun pisang). Meski tampilannya sangat sederhana, namun rasanya cukup menggugah selera untuk menambah lagi, karena porsinya tidak terlalu banyak. Sedangkan untuk lauk pelengkapnya, ada sate telur, irisan bakwan atau kerupuk. Kuliner yang satu ini memang cukup sederhana, harganya juga sangat bersahabat. Kalau ingin menikmati di daerah asalnya, bisa singgah ke desa Tanjung Gang I, Kudus. Di sebuah ruas jalan terdapat hampir 20 kios yang berjajar rapi menyajikan menu lentog tanjung. Biasanya lentog tanjung hanya bisa ditemukan dari pagi sampai siang hari, lebih tepatnya sekitar jam 6 pagi sampai sekitar jam 11 siang setiap hari. Lenthog bisa juga didapat di GOR Wergu Wetan dan sekitar Kudus.

Garang Asem Kudus

Jika anda berkunjung di Kudus jangan sampai terlewatkan untuk menyantap garang asem khas Kudus yang pedas dan maknyuss. Masakan khas Kudus ini diolah dari ayam kampung dipotong kecil-kecil dikukus dalam daun pisang, kuahnya diberi cabai rawit dan belimbing.yang memberikan rasa asam dan segar. Pokoknya maknyus. Ada 3 jenis garang asam yang tersedia di rumah makan ini, ada garang asam ayam, jerohan dan cakar ayam. Tidak perlu menunggu terlalu lama, garang asam yang masih terbungkus daun pisang dan mengepulkan asap sudah tersaji di atas meja. Ukuran porsinya cukup besar, cukup untuk dinikmati 2 orang. Ketika bungkusnya dibuka, aromanya sangat menggoda, irisan tomat hijau, cabai hijau dan bawang putih membungkus potongan ayam yang cukup kecil tapi banyak. Setelah mencicipi kuahnya yang bening, ada rasa asam, pedas dan menyegarkan, dagingnya empuk seperti dipresto.Lokasi : RM Sari Rasa, Jalan Agilkusumadya dari arah terminal induk Kudus ( arah Semarang ) lurus kiri jalan setelah kantor PLN berseberangan dengan Yayasan Jemaah Haji Kudus. Biasanya rumah makan ini mulai melayani para pengunjungnya setiap hari mulai dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam. Tapi untuk menu garang asamnya mulai tersedia sekitar jam 10 pagi, dan sebelum jam 7 malam biasanya sudah kehabisan menu ini.

Read more ...

Friday, 21 March 2014

Landmark Kudus Tiga Unsur

Landmark Kudus 3 Unsur
Landmark Kudus 3 Unsur
Landmark Kudus Tiga Unsur

Kudus terkenal dengan kota kretek, namun tidak hanya hasil kretek saja yang dibanggakan kabupaten terkecil di Propinsi Jawa Tengah ini memiliki patung, monumen dan landmark kokoh pun berdiri tegak menghiasi kota ini yang menjadikan Kota ini sebagai hasil karya seni paling tinggi dalam budaya manusia.

Arti Landmark menurut   Prof. Hermawan Kartajaya (seorang begawan marketing) yang mengartikan ‘landmark’ sebagai sebuah simbol visual yg mengindentifikasikan suatu kota berdasarkan bentuk visual tertentu yang kuat karena memiliki suatu yang khas dan tidak dimiliki daerah lain serta berada pada tempat strategis sebuah kota, dimana arah atau aktivitas saling bertemu. Frasa ‘simbol penanda kota’ atau ‘ciri khas penanda suatu daerah’ sepertinya belum dapat mewakili kata ‘landmark’ secara efektif, karena masih terlalu panjang. Apa boleh buat, untuk kali ini kata ‘landmark’ eksistensinya belum tergoyahkan, hingga ada saat di mana nanti para pakar bahasa Indonesia dapat menemukan padanan kata ‘landmark’ ini dengan baik dan benar.


Jika Kita Berada di Jalan Simpang Tujuh Kudus atau lebih familiar disebut Alun - Alun Kudus, mungkin kita sering bertanya-tanya monumen yang menyerupai tulisan COU itu maksudnya dan artinya. Berikut arti Landmark yang ada tepat di selatan Pusat kuliner Taman bojana tersebut 

Landmark Kudus Tiga Unsur tersebut adalah Persembahan PT. Djarum untuk Kota Kudus

TIGA UNSUR

Tiga unsur terdiri dari tiga buah lingkaran stailess steel dan kuningan, berisi bentuk bunga cengkeh, bulatan tembakau untuk makan sirih dari tembaga dan tiga Silinder kaca.

Menyimbolkan unsur dari kretek :
Stenless steel representasi kekinian
Suningan dan tembaga simbol tradisi
Kaca simbol air atau saos

Landmark tersebut hasil karya Hedi Hariyanto


Read more ...

Friday, 17 January 2014

Masjid Menara Kudus



Masjid Menara Kudus (disebut juga dengan Masjid Al Aqsa dan Masjid Al Manar) adalah sebuah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549Masehiatau tahun 956 Hijriah dengan menggunakan batu Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama. Masjid ini terletak di desa Kauman, kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Mesjid ini berbentuk unik, karena memiliki menara yang serupa bangunan candi. Masjid ini adalah perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu. Pada masa kini, masjid ini biasanya menjadi pusat keramaian pada festival dhandhanganyang diadakan warga Kudus untuk menyambut bulan Ramadan. 
Menara Kudus
Berdirinya Masjid Menara Kudus tidak lepas dari peran Sunan Kudus sebagai pendiri dan pemrakarsa. Sebagaimana para walisongo yang lainnya, Sunan Kudus memiliki cara yang amat bijaksana dalam dakwahnya. Di antaranya, beliau mampu melakukan adaptasi dan pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat yang telah memiliki budaya mapan dengan mayoritas beragama Hindu dan Budha. Pencampuran budaya Hindu dan Budha dalam dakwah yang dilakukan Sunan Kudus, salah satunya dapat kita lihat pada masjid Menara Kudus ini.

Masjid Al Aqsa Kudus
Masjid Al Aqsa Kudus



Masjid ini didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M. Hal ini dapat diketahui dari inskripsi (prasasti) pada batu yang lebarnya 30 cm dan panjang 46 cm yang terletak pada mihrabmasjid yang ditulis dalam bahasa Arab.


Adapun Arsitekturnya adalah :


Masjid Menara Kudus ini memiliki 5 buah pintu sebelah kanan, dan 5 buah pintu sebelah kiri. Jendelanya semuanya ada 4 buah. Pintu besar terdiri dari 5 buah, dan tiang besar di dalam masjid yang berasal dari kayu jati ada 8 buah. Namun masjid ini tidak sesuai aslinya, lebih besar dari semula karena pada tahun 1918-an telah direnovasi. Di dalamnya terdapat kolam masjid, kolam yang merupakan "padasan" tersebut merupakan peninggalan kuna dan dijadikan sebagai tempat wudhu.
Di dalam masjid terdapat 2 buah bendera, yang terletak di kanan dan kiri tempat khatib membaca khutbah. Di serambi depan masjid terdapat sebuah pintu gapura, yang biasa disebut oleh penduduk sebagai "Lawang Kembar".
Di komplek Masjid juga terdapat pancuran untuk wudhu yang berjumlah delapan buah. Di atas pancuran itu diletakkan arca. Jumlah delapan pancuran, konon mengadaptasi keyakinan Buddha, yakni ‘Delapan Jalan Kebenaran’ atau Asta Sanghika Marga.

Menara Masjid
Menara Kudus memiliki ketinggian sekitar 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 m. Di sekeliling bangunan dihias dengan piring-piring bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah. Dua puluh buah di antaranya berwarna biru serta berlukiskan masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma. Sementara itu, 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang. Di dalam menara terdapat tangga yang terbuat dari kayu jati yang mungkin dibuat pada tahun 1895 M. Bangunan dan hiasannya jelas menunjukkan adanya hubungan dengan kesenian Hindu Jawa karena bangunan Menara Kudus itu terdiri dari 3 bagian: (1) kaki, (2) badan, dan (3) puncak bangunan. Menara ini dihiasi pula antefiks (hiasan yang menyerupai bukit kecil).
Kaki dan badan menara dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen. Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat batang saka guru yang menopang dua tumpuk atap tajug.
Pada bagian puncak atap tajug terdapat semacam mustaka (kepala) seperti pada puncak atap tumpangbangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada unsur arsitektur Jawa-Hindu.

Demikian info kami mengenai Masjid Menara Kudus semoga bermanfaat. 


Sumber : wikipedia - ensiklopedia bebas
Gambar : Gawi Bastian

#cambria

Powered by SouvenirBagus & GrosirKudus
Read more ...

Tuesday, 14 January 2014

Ampyang Maulid Budaya Loram Kulon

 KUDUS-ISK- Tradisi budaya Festival Ampyang Maulid di desa Loram Kulon kecamatan Jati, yang sejarahnya berasal dari perjuangan Sunan Hadhlirin dalam berdakwah membumikan islam di bagian selatan, dengan lewat pendekatan sosial dan budaya. Pada waktu itulah ketika di bulan Maulid Nabi( Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW) Sunan Hadhlirin mengajak masyarakatnya untuk merayakannya dengan berbagai pernak pernik beragam kharakteristik yang dimiliki, sehingga sampai sekarang masih di pertahankan Budayanya walau ratusan tahun berlalu, walau tergerus dalam dunia Modernisasi. 
Selain itu, suatu sisi yang tak kalah menariknya, menjadikan khas budaya dari Loram kulon, terletak pada Hiasan Krupuk yang di susun sedemikian rupa dan di tambah serutan bambu sehingga terbentuk kriting yang kemudian menjadi sebuah bentuk yang menyerupai Ampyang.
Acara festival Ampyang sebanyak 40 peserta ini, begitu sangat mendapatkan hati dan Antusias warga dalam berpartisipasi demi menyemarakkan budaya yang telah dijadikan media dakwah islam terdahulu. Berlangsung ramainya, acara pukul 14:00 WIB di hadiri oleh Bupati kabupaten Kudus, H.Musthofa dan Wakil, H.Abdul Hamid beserta jajaran SKPD lainnya. Sebuah desa yang menjadikan tempat kelahiran H.Musthofa, Bupati kudus, memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh warga di tengah tengah sambutannya. ''Saya ingin,desa yang menjadikan desa kelahiranku, harus dapat menjadi desa percontohan atas kaya akan seni dan budayanya''ujar beliau H.Musthofa.
Tak hanya berbagi keceriaan pada event festival tersebut, berbagi kasihpun juga dapat di peruntukkan bagi orang yang tidak mampu. Seperti halnya, ketika  awal sambutannya Bupati Kudus, H.Musthofa memberikan bantuan Kursi Roda kepada Ibu Zumirah yang tadi sore tadi diwakili oleh Putranya. 
Apa yang telah dibuat sedemikian bentuk rupanya sebagai bahan pertunjukkan dari warga Desa Loram kulon, menunjukkan bahwa Besar akan partisipasinya atas festival Ampyang Maulid dengan segala bentuk kreatifitasnya, hal ini artinya bahwa Berkreatifitas seni tak pernah ada Matinya. 

#Sang_Pejuang
*Redaksi


Read more ...

Lentog Tanjung


Kudus, everyday is culinary days

Lentog artinya Lontong. Dahulu, penjualnya berasal dari Desa Tanjungkarang (Tanjung). Maka dinamai Lentog Tanjung. Namun kini telah menyebar ke seluruh pelosok kota Kudus. Yang unik dari lentog adalah ukuran lontongnya yang sebesar betis orang dewasa. Biasanya lentog tanjung dinikmati sebagai menu untuk sarapan, terdiri dari 3 bahan utama, ada lontong yang dipotong kecil-kecil, sayur gori (nangka muda) dan lodeh tahu.

Lentog Tanjung terdiri dari 2 kata, lentog dan tanjung. Lentog atau yang biasanya disebut lontong adalah sebuah makanan yang yang terbuat dari beras yang dibungkus daun pisang . Sedangkan tanjung (Tanjungkarang) adalah sebuah desa yang berada tepatnya di kecamatan Jati Kab. Kudus, Jawa Tengah. Ya memang makanan khas pagi ini dahulu hanya berasal dari desa sana dan hanya dijual di sekitar daerah tersebut dan ramai pada saat hari Minggu atau libur. Sekarang pun masih ada, walaupun dibeberapa tempat di lain desa juga berdiri warung warung yang menawarkan lentog Tanjung.

Di sajikan di atas piring kecil yang dialasi daun pisang serta taburan bawang goreng, membuatnya semakin gurih saat disantap. Selain tampilannya yang sederhana, untuk memakannya juga tidak menggunakan sendok, namun menggunakan suru (sendok dari daun pisang).

Join yuk di grup Info Seputar Kuliner,  untuk bisa berbagi cerita mengenai cita rasa khas Kudus 


 source : wikipedia

#cambria

Powered by GrosirKudus
Read more ...

Saturday, 4 January 2014

5 Januari ditetapkan sebagai Hari Pedagang Kaki Lima (PKL) Kudus

Buapati Kudus H. Musthofa


Alun-alun simpang tujuh Kudus berubah menjadi lautan pedagang kaki lima, pada hari minggu 5 januari 2014. Terlihat wajah sumringah dan senyum ceria diantara kerumunan massa yang menaiki sepeda motor dan tampak gerobak PKL diatas sepeda motor mereka. Pada hari ini Bupati Kudus H. Musthofa menyerahkan bantuan gerobak PKL kepada 915 pedagang.
"Pergunakan bantuan ini dengan baik, benar dan bertanggung jawab bantuan tersebut. Taati aturan dan ketentuan yang berlaku, terkait tempat dan jam berjualan jenengan semua. Pemerintah Kabupaten Kudus telah memberikan ruang dan wadah bagi PKL seluas-luasnya untuk berusaha, "kata Bupati Kudus H. Musthofa dalam sambutannya.

"Pada Hari Ini 5 Januari 2014 saya tetapkan sebagai Hari PKL Kabupaten Kudus." Imbuh Bupati Kudus.

"Bantuan senilai 3,1 miliar ini bersumber dari DBHCHT 2013, kami serahkan kepada 937 PKL. Anggaran ini kami gunakan untuk memberikan bantuan hibah gerobak kepada 800 orang PKL sekolah, 70 orang PKL Kaliputu dan 45 orang PKL Gang I. Selain itu juga untuk melanjutkan penataan tempat berusaha bagi 8 PKL di Jl. R. Agil Kusumadya dan 10 PKL di Halaman GOR Wergu Wetan Kudus," kata Plt Kepala Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Sudiharti.

"Bantuan ini kami berikan dengan tujuan untuk mengangkat harkat dan martabat Pedagang Kaki Lima yang selama ini terpinggirikan. Selain itu ini juga merupakan tugas, pokok dan fungsi dari Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar dalam membina para pedagang kaki lima dan asongan. Selain itu hal ini merupakan salah satu program Pemkab sesuai visi Bupati Kudus Terwujudnya Masyarakat Kudus yang Semakin Sejahtera, " imbuh Sudiharti.
Acara ini dilanjutkan dengan konvoi 800 orang PKL Sekolah bersepeda motor mengelilingi kota Kudus. Semoga ke depan para PKL dapat berjualan dengan baik, aman, nyaman serta menjaga lingkungan sekitarnya. (Humas)
Read more ...

Ampyang Maulid Loram Expo 2014


Ampyang Maulid dan Loram Expo 2014 Kali ini tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Acara tersebut akan dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 14 Januari 2014.


Adapun start Ampyang Maulid start dari lapangan Kongsi Loram Wetan pukul 13.00 dan Finish ada di halaman Masjid At Taqwa Loram Kulon. Bagi sedulur ISK yang ingin meyaksikan kirab Budaya Ampyang maulid silahkan hadir dan menyaksikan di sepanjang jalan yang di lalui, mulai lapangan kongsi hingga Masjid Wali At Taqwa Loram Kulon.

Selain yang diatas adapula Loram Expo yang diadakan di Gedung Pengajian NU Loram Kulon Pada tanggal 8 Januari sampai 14 Januari 2014 dimana stand dibuka pada jam 08.00 WIB  sampai dengan 21.00 WIB.Pada acara tersebut panitia juga menampilkan kretifitas masyarakat dan lomba terbang papat. Jadi jangan sampai ketinggalan untuk menyaksikan pesta rakyat tersebut dan ambil hikmah di balik semua kegiatan AmpyangMaulid dan Loram Expo 2014.

#cambria 
Informasi diatas dipersembahkan oleh souvenirbagus & grosirkudus

Read more ...

Patung Selaras Dan Seimbang ( Pertigaan Pentol Kudus )

Patung Pertigaan Pentol Kudus
Patung Selaras Dan Seimbang

Patung Selaras Dan Seimbang ( Pertigaan Pentol Kudus ) . Kudus terkenal dengan kota kretek, namun tidak hanya hasil kretek saja yang dibanggakan kabupaten terkecil di Jawa Tengah patung-patung kokoh pun berdiri tegak menghiasi kota ini yang menjadikan Kabupaten Kudus yang dipimpin oleh  Musthofa Wardoyo ini sebagai hasil karya seni paling tinggi dalam budaya manusia.

Patung Selaras dan  Seimbang yang berada di Pertigaan Pentol merupakan hasil karya  Pematung Benny Ronald Tahalele yang dibantu dengan Assisten pematung Iwan Aswan, Tehnisi A. Hargono Soegijo yang di Produksi oleh Triyasa Studio Jakarta. Tingginya 500 centimeter, dengan bahan baku logam yang dicairkan dan dituang (panas), logam cetak dengan tehnik electropalting. Setumpu berbahan baku andesit atau batu candi. Patung ini merupakan hasil kerjasama antara Kabupaten Kudus dengan PT. Djarum.

Adapun makna yang tersirat dalam Patung Selaras dan Seimbang tersebut adalah satu kondisi fundamental bagi seorang atau suatu bangsa untuk siap tinggal landas menuju dan mencapai hal-hal baru.

Patung Selaras Dan Seimbang ( Pertigaan Pentol Kudus )
Informasi diatas dipersembahkan oleh souvenirbagus & grosirkudus


Read more ...
Designed By